Logo Skadron 8 TNI Angkatan Udara ( AU ) Gajah Terbang

Gajah bisa terbang, mungkinkah? Pasti itu hanya sebuah mitos. Seandainya ya, dapat dibayangkan dengan sayap yang lebar dengan tubuh yang besar pula, gajah itu hinggap di atas rumah, apa yang terjadi?
          Ternyata gajah itu merupakan simbol/logo dari Skadron Udara 8 yang berkedudukan di Lanud Atang Sendjaja, Bogor, yang saat ini menggunakan pesawat jenis Helikopter Puma SA-330 buatan Perancis dan IPTN (PT DI) sebagai kekuatannya.
          Skadron Udara 8 berdiri seiring dibentuknya Wing Operasi 004 (Wingops 004) yang membawahi Skadron 6 dengan pesawat Mi-4 dan Skadron 7 pesawat Mi-4 dan SM-1. sedangkan Skadron 8 pertama kali menggunakan pesawat jenis Mi-6 buatan USSR (Soviet). Pesawat helikopter angkut berat dengan kemampuan muat barang seberat 12.000 kg, dengan rekor muat barang mencapai 20.117 kg dan mempunyai 120 tempat duduk terpasang serta memiliki kecepatan jelajah 250 km/jam dengan jumlah awak lima orang. Helikopter Mi-6 datang ke Indonesia tahun 1960-an diangkut menggunakan kapal laut dan berlabuh di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta dalam bentuk tidak utuh. Dari Tanjung Priok diangkut ke Pangkalan Angkatan Udara (PAU) Cililitan (Lanud Halim Perdanakusuma) untuk dirakit ulang dan siap diterbangkan yang dipimpin oleh Kapten Udara Atang Sendjaja.
          Seiring dengan waktu dan penggunaan jam terbang serta kesulitan pengadaan suku cadang, maka semua jenis pesawat helikopter buatan Eropa Timur, akhirnya lumpuh tidak dapat dioperasikan lagi yang berujung dengan dibekukannya Skadron Udara 8.
          Pada Mei 1978 TNI AU merealisasikan pengadaan pesawat SA-330 Puma buatan Perancis sebanyak enam unit untuk menggantikan pesawat-pesawat buatan Eropa Timur. Pada tahun 1980 sebanyak lima unit yang langsung diterbangkannya dari Perancis  dengan rute Paris-Abu Dhabi-Islamabad-Colombo-Medan-Jakarta.
          Sesuai Skep/22/V/1981 tanggal 20 Mei 1981, diambil keputusan mengaktifkan kembali Skadron 8 Angkut Berat yang lebih satu dasawarsa mengalami pembekuan dan ditunjuk Letkol Pnb Suparman menjadi Komandan Skadron. Pada tahun 1982 bertambah lagi lima pesawat SA-330 Puma buatan Industri Pesawat Terbang Nurtanio (IPTN), serta Februari 1985 didatangkan dua unit Puma tipe “L�? yang kemudian dimodifikasi menjadi Helikopter VIP, dengan nomor registrasi HT-3317 dan HT-3318.
          Seperti halnya beberapa jenis pesawat TNI termasuk pesawat tempur dan transport, helikopter dapat diterbangkan ke berbagai pelosok tanah air, lebih-lebih helikopter yang terbang dan tugasnya tidak mengenal jenis tempat untuk didarati.
          Tugas dan tanggung jawab Skadron Udara 8 adalah menyiapkan dan melaksanakan pembinaan serta pengoperasian unsur-unsur udara sesuai dengan fungsinya (pesawat dan awak pesawat) di dalam satuannya. Di dalam melaksanakan setiap tugas operasi Skadron Udara 8 mempunyai kemampuan berdiri sendiri secara terbatas, khususnya dalam dukungan logistik maupun pemeliharaan pesawat.
          Untuk meningkatkan kualitas para penerbang dan teknisi helikopter SA-330 Puma, TNI AU mengirim para awak pesawat secara bertahap ke pabrik pembuatan helikopter Aerospatiale, Perancis.
          Seiring reorganisasi TNI AU, pada tanggal 28 Maret 1985 Wingops 004 dibubarkan berdasarkan instruksi Kasau Nomor: Ins/03/III/1985 tanggal 12 Maret 1985, seluruh fasilitas dan personel Skadron Udara 8 diserahkan kepada Pangkalan Udara Atang Sendjaja diikuti juga oleh Skadron 6 dan 7. Dan dengan sendirinya Skadron Udara 6, 7 dan 8 menjadi bagian dari satuan pelaksana tugas Lanud Atang Sendjaja.
          Perkembangan global mengharuskan TNI khususnya TNI AU menyempurnakan struktur organisasinya, yang setelah hampir dua windu organisasi Wing tidak ada di jajaran TNI AU, maka berdasarkan Instruksi Kasau Nomor: Ins/2/II/2000 tentang pembentukan Wing jajaran Koopsau. Mengaktifkan kembali fungsi dan organisasi Wing 004 di lingkungan Atang Sendjaja dengan nama Wing 4 yang bertugas dibidang latihan sekaligus membawahi Skadron Udara 6 dan 8 dengan Komandan Wing pertama dipercayakan kepada Kolonel Pnb Sujono.
          Pada awal berdirinya Skadron Udara 8 sudah melaksanakan penerbangan VIP maupun VVIP, bahkan presiden Soekarno mempercayakan penerbangan Istana kepada Letnan Udara II Joem Soemarsono dengan menggunakan pesawat helikopter jenis Bell-47 J Ranger. Dengan semakin intensifnya penerbangan Istana maka T-58 Sikorsky  dan Mi-4 dijadikan pula pesawat VIP.
          Dengan semakin bertambahnya kekuatan pesawat, maka semakin banyak pula tugas-tugas yang harus dilaksanakan, baik yang bersifat operasi militer maupun non-militer. Tugas tersebut adalah melaksanakan penerbangan mendukung kegiatan Presiden dan Wakil Presiden.
          Pada tahun 1984 dua unit pesawat SA-330 Puma (H-3304 dan H-3306) dipindahkan dari Skadron Udara 8 Lanud Atang Sendjaja ke Skadron Udara 17 VIP Lanud Halim Perdanakusuma beserta beberapa personel penerbang dan teknisi menjadi kekuatan penuh organik Skadron Udara 17 VIP Lanud Halim Perdanakusuma. Meskipun secara administratif kedua pesawat menjadi kekuatan Skadron Udara 17 VIP, tetapi dalam pelaksanaan penerbangannya apabila mendukung penerbangan VIP/VVIP Presiden maupun Wakil Presiden ditunjuk Komandan Skadron Udara 8 sebagai komandan flight dalam penerbangan tersebut.
          Tahun 1992 bertambah kekuatan dengan kedatangan dua unit pesawat helikopter jenis NAS-332 Super Puma dengan nomor register H-3321 dan H-3323 yang langsung diserahkan ke Skadron Udara 17 VIP untuk mendukung kegiatan penerbangan VVIP Presiden dan Wakil Presiden.
          Sesuai tugas dan fungsinya Skadron Udara 8 beserta personelnya sudah memberikan tugas dan bhaktinya kepada bangsa dan negara melalui operasi-operasi baik yang bersifat militer maupun non-militer seperti SAR, ambulans udara, olahraga, penanggulangan bencana alam, dan komando pengendali (Kodal) serta operasi-operasi lainnya yang membutuhkan kehadiran helikopter.

Artikel di kutip dari : http://www.tni.mil.id/view-4790-mengenal-skadron-udara-8-gajah-terbang.html
0 Komentar