Logo Skadron 6 TNI Angkatan Udara ( AU )

SEKILAS TENTANG SKADRON UDARA 6

Bila kita masuk dari pintu selatan Lanud Atang Sendjaja, hanggar Skadron Udara 6 yang menghadap ke selatan akan terlihat dengan jelas dari kejauhan. Banyak yang khusus dari tempat ini. Tidak seperti umumnya hanggar pesawat di berbagai Lanud, hanggar Skadron Udara 6 terdiri dari 2 bangunan identik. Hanggar sebelah timur dikenal sebagai hanggar I, sementara bangunan sebelah barat adalah hanggar II. Hanggar II ini memang sebelumnya merupakan Skadron Udara 7 yang sejak 1987 pindah ke Lanud Suryadarma Subang. Apron depan hanggar merupakan tempat apel sehari-hari anggota Skadron dan juga daerah penyiapan pesawat sebelum terbang. Di depan hanggar Skadron Udara 6, berdiri bangunan hanggar Skadron Teknik 024 yang menghadap ke Barat.

Namun demikian, areal Skadron sendiri juga meliputi kawasan yang cukup luas. Di sebelah timur hanggar I terdapat taman buah yang berisi berbagai tanaman buah-buahan seperti nangka, durian, rambutan dan sebagainya. Buah-buahan ini sebagian besar sudah dapat dinikmati oleh anggota Skadron. Dan ditempat ini pulalah para pejabat TNI AU yang berkunjung ke Lanud meninggalkan pohon kenang-kenangan. Menuju ke belakang hanggar, terdapat petak-petak kolam ikan yang dikelola oleh tiap-tiap flight (flight adalah satuan-satuan di bawah Skadron. Di Skadron Udara 6, ada 1 Flight Latihan (Flight Lat), 3 Flight Operasi (Flight Ops A,B,C) dan 1 Flight Pemeliharaan (Flight Har) yang dipimpin oleh masing-masing Komandan Flight). Selain kolam flight, ada 1 kolam besar yang menjadi milik bersama seluruh Skadron. Di atas kolam ini berdiri mushola “Zhullah” milik Skadron Udara 6.

Di sebelah barat hanggar II terdapat bangunan shelter yang sampai buku ini disusun masih dalam tahap penyelesaian. Shelter ini mampu menampung 6 pesawat. Hanggar sendiri menaungi ruangan-ruangan yang berfungsi sebagai tempat kerja para anggota Skadron. Di hanggar I ada ruang Komandan, crew room Perwira, gudang Titik Bekal, ruang kelas serta ruang Kadishar (Kepala Dinas Pemeliharaan). Di hanggar II, terdapat ruang Kadisops (Kepala Dinas Operasi), crew room anggota, koperasi dan ruang Tata Usaha Teknik (TUT). Berbagai sarana kerja umumnya ditempatkan di hanggar ini seperti tangga, towing bar (alat untuk menarik pesawat), towing car (mobil penarik pesawat) dan sebagainya.

Fasilitas untuk menyalurkan hobi juga banyak di sini. Selain kolam-kolam ikan dan taman buah tadi, ada pula fasilitas olahraga seperti lapangan badminton, tenis meja, lapangan basket dan lapangan volley-ball yang tersedia di dalam maupun di luar hanggar. Cabang-cabang olahraga itu memang cabang yang populer di Skadron di samping, tentu saja, sepakbola. Untuk bersantai, anggota Skadron biasanya duduk-duduk di belakang hanggar, berteduh di bawah pohon sambil memandangi kolam yang terbentang.

Sumber daya manusia di Skadron Udara 6 saat ini terdiri dari 47 Perwira, 60 Bintara, 18 Tamtama dan 4 Pegawai Negeri Sipil (PNS) ditambah 4 tenaga honorer. Deretan manusia inilah yang mengawaki Skadron helikopter pertama di Indonesia ini. Mereka berasal dari berbagai sumber, berbagai latar belakang dan berbagai daerah dengan satu visi yang sama : keep the choppers flying! Sebuah visi yang hanya bisa diwujudkan dengan kesatuan tekad, semangat dan keyakinan diri serta kepasrahan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Para Perwira berasal dari 4 sumber : Akademi TNI AU (AAU), Prajurit Sukarela Dinas Pendek (PSDP), Sekolah Pembentukan Perwira (Setukpa) dan Sekolah Perwira Prajurit Karier (Sepa PK). Perwira penerbang, sebelum masuk Skadron Udara 6 harus menyelesaikan dulu pendidikan di Sekolah Penerbang (Sekbang) di Lanud Adisutjipto Yogyakarta setamatnya dari AAU. Setelah lulus Sekbang dan dijuruskan ke pesawat helikopter, mereka akan mengikuti transisi yang dikenal dengan Kursus Pengenalan Terbang Pesawat Helikopter (KPTPH) di Lanud Suryadarma Subang sebanyak 35 jam terbang dengan pesawat “Soloy”. Setelah selesai, barulah mereka bergabung sesuai penjurusan ke skadron-skadron helikopter (6,7, atau 8).

Di Skadron, penerbang baru akan menjalani latihan konversi di pesawat S-58T “Twin Pac”. Jam terbangnya adalah 30 jam sebelum mereka dinyatakan sebagai Copilot. Setelah memperoleh 200 jam di Twin Pac, mereka berhak mengikuti latihan kaptensi sebanyak 30 jam sebelum disahkan sebagai Captain Pilot. Captain Pilot senior akan dikirim untuk mengikuti Sekolah Instruktur Penerbang (SIP) di Yogyakarta. Setelah menjadi instruktur penerbang, mereka akan mengajar di Sekbang atau bila dibutuhkan oleh Skadron akan ditarik untuk mengajar di Skadron. Sementara ini, penerbang Super Puma (di luar yang mengikuti kursus di PT.DI) diperoleh dari para Captain Pilot Twin Pac yang dikonversikan oleh Skadron. Semua kursus yang diikuti oleh para pilot selalu didahului dengan bina kelas (ground school) dengan instruktur para JMU, specialist atau Perwira Teknik. Sementara itu, Perwira Teknik (Patek), Elektro (Palek) dan Pembekalan (Kal) berasal dari AAU, Sepa PK atau Setukpa. Untuk alumni AAU dan Sepa PK, mereka harus melalui pendidikan dasar kecabangan di Lanud Husein Sastranegara (Tek dan Kal) serta Lanud Sulaiman (Lek) sebelum ditempatkan di Skadron. Di Skadron, merekapun berhak memperoleh kualifikasi JMU dan Inspektor setelah lulus kursus yang diselenggarakan oleh Lanud ataupun Disdikau.

Untuk anggota (Bintara dan Tamtama) diperoleh dari sumber antara lain : Secaba (Sekolah Calon Bintara) Reguler, Ganesha dan Secata (Sekolah Calon Tamtama). Bintara mekanik dengan pangkat minimal Sertu dapat memperoleh kualifikasi JMU setelah lulus kursus JMU dan JMU senior berhak pula memperoleh kualifikasi Inspektor setelah lulus sekolah Inspektor. Kualifikasi-kualifikasi ini diperoleh selain dengan nilai akademis yang baik, juga dengan nilai kepribadian dan kesemaptaaan jasmani yang memenuhi syarat, karena semakin tinggi kualifikasi mereka, semakin besar pula tanggung jawab yang harus diemban.

Menjalankan roda Skadron tidak ubahnya seperti menjalankan roda rumah tangga sehari-hari. Filosofi ini kita anut karena pada dasarnya “Squadron is home. It is also a family”. Hidup sebagai sebuah keluarga, itu yang kita tuju dan apapun yang dilakukan di Skadron hari ini, semuanya harus menuju ke sana. Komandan adalah sang kepala rumah tangga, yang dibantu para stafnya untuk membina kehidupan yang harmonis setiap hari. Untuk masalah operasi dan kegiatan latihan penerbangan, Komandan dibantu oleh Kadisops Skadron. Sementara untuk masalah pemeliharaan dan penyiapan pesawat, Komandan dibantu oleh Kadishar. Hubungan Komandan dengan kedua Kadis ini adalah hubungan koordinasi staf. Komandan sendiri secara langsung (dalam hubungan komando) membawahi para Dan Flight untuk melaksanakan tugas-tugas penerbangan.

Selain tugas-tugas penerbangan dan pembinaan kemampuan penerbangan, Skadron Udara 6 juga bertanggungjawab terhadap pembinaan personel atau sumber daya manusia yang ada di dalamnya. Tugas ini tidak hanya yang berkaitan dengan profesi penerbangan saja, namun juga hal-hal lain yang mendukung keberhasilan pelaksanaan tugas. Sebuah sub-sistem yang dibentuk untuk masalah ini adalah Urusan Dalam (Urdal). Tugasnya mengurus masalah tata tertib, disiplin anggota Skadron, pengusulan kenaikan pangkat, pendidikan sampai masalah sehari-hari yang rutin : kebersihan, apel, fasilitas satuan dan sebagainya.
Sumber : Website Resmi TNI AU
0 Komentar