Salah satu skadron yang terbentuk saat
itu adalah Skadron 2, berfungsi sebagai satuan angkut udara (air
transport). Skadron ini tetap eksis sampai sekarang dan menjadi batu
pijakan dalam pembentukan para penerbang skadron-skadron angkut lain di
lingkungan TNI AU pada masa berikutnya. Skadron angkut berlambang “kuda
terbang” ini telah memainkan perannya seiring dengan perjalanan sejarah
bangsa dan kiprah TNI AU di dalamnya.
Terlahir
sebagai skadron angkut pertama, memiliki pesawat cukup banyak dan
modern pada masanya. Namun dengan terbatasnya penerbang untuk mengawaki,
membuat skadron ini harus berjuang ekstra keras agar selalu siap
menjalankan tugas, kapanpun dan dimanapun. Mulai dari mengangkut bahan
makanan, obat-obatan, tumbuh-tumbuhan, hingga pasukan dengan segala
perangkat kebutuhan pendukung dalam pertempuran. Pokoknya selama masih
bisa masuk dalam tubuh pesawat dan tidak membahayakan keselamatan
penerbang, pasti akan diterbangkan sampai ketujuan. Sampai sekarang,
walaupun telah lahir skadron-skadron angkut lainnya, skadron 2 tetap
menjadi monumen hidup dari bukti semangat juang, dedikasi, loyalitas,
dan profesionalisme dari seluruh personilnya.
Kelahiran Si Kuda Terbang.
Bila
dilihat kebelakang, skadron angkut dalam lingkungan TNI AU sebenarnya
dirintis dari PAU (Pangkalan Angkatan Udara) Andir (sekarang Lanud
Husein Sastranegara), Bandung. Menyusul penyerahan kedaulatan RI dari
Belanda pada tanggal 27 Desember 1949, maka AURIS (Angkatan Udara
Republik Indonesia Serikat) mendapatkan warisan pesawat terbang dalam
jumlah besar dari ML (Militaire Luchtvaart), termasuk di dalamnya adalah
pesawat angkut legendaries Douglas C-47 Dakota.
Berdasarkan
selembar surat Perintah KSAU, tanggal 1 Agustus 1950, bernomor
0439/Pr/KSAU/50, maka dibentuklah skadron ke II sebagai skadron angkut.
Alhasil sejak saat itu 1 Agustus dianggap sebagai tanggal kelahiran
Skadron 2. Selain itu, keputusan ini sekaligus juga menunjuk Achting
Letnan Udara I Sudarjono untuk mengkomandani skadron yang baru saja
dibentuik ini. Selain tiu pembentukan skadron ke II adalah merupakan
bagian dari kelanjutan proses penyerahan seluruh kekuatan udara ML dan
personilnya dengan jumlah 10.000 orang kepada AURIS pada tanggal 27 Juni
1950.
Sebelum
penyehatan kekuatan, AURIS hanyalah suatu organisasi perang dengan
sejumlah personil bersemangat juang tinggi, beberapa pangkalan serta
jumlah pesawat peninggalan bala tentara Jepang berkondisi layak terbang
terbatas. Namun secara tiba-tiba dilimpahi dengan berpuluh-puluh pesawat
yang terhitung modern pada jamannya seperti pesawat pengebom North
American B-25 Mitchell, pesawat angkut C-47 Dakota, pemburu North
America P-51 Mustang pesawat intai Auster MK-II dan pesawat ambifi
Consolidated PBY-54 Catalina. Hebatnya lagi semua pesawat tersebut dalam
kondisi laik terbang alias siap operasional.
Khusus
untuk pesawat angkut, awalnya secara simbolis memang hanya dua unit
Dakota saja yang diserahkan oleh ML. Namun lambat laun jumlah ini
membengkak. Sebuah catatan melukiskan bahwa waktu itu Belanda
menyerahkan 44 unit C-47A, sedang lainnya menyatakan tak lebih dari 29
pesawat saja. Namun komandan Skadron 2 pertama memberikan gambaran lebih
detail lagi. Menurut Sudarjono, RI mendapatkan hibah 16 unit C-47 bekas
AU Belanda ditambah 22 unit bekas pangkal AL Belanda. Tak hanya itu,
sebuah DC-3 bernomor registrasi T-482 khusus diserahkan sebagai ganti
rugi atas jatuhnya VT-CLA yang ditembak jatuh Belanda pada tanggal 29
Juli 1947. Di kemudian hari pesawat Dakota pengganti tadi lebih banyak
digunakan untuk perjalanan dinas VIP, lantaran punya konfigurasi tempat
duduk mirip dengan pesawat – pesawat komersial.
Penunggang Kuda Terbang di Masa Awal
Kenyataan
yang dihadapi pada masa–masa awal kelahiran Skandron II adalah jumlah
pesawat sangat banyak namun tidak diimbangi dengan kuantitas personil
yang memadai. Masalah serupa juga dihadapi oleh satuan – satuan lainnya.
Sebagai gambaran tulang punggung kekuatan, Skadron Udara II dengan
basis di PAU (Pangkalan Angkatan Udara) Andir, Bandung terdiri atas 16
pesawat C-47 Dakota. Padahal jumlah awak Dakota AURI pada waktu itu
masih bisa dihitung dengan jari, beberapa penerbang yang masuk dalam
daftar awak pertama Skadron II pada waktu itu adalah :
1. LU I Sudarjono sekaligus sebagai Komandan Skadron
2. LU I Sutardjo Sigit
3. LU II Budiarto Iskak
4. LU II Sjamsudin Noor
Selain
keempat penerbang asli bangsa Indonesia tadi, beberapa penerbang
veteran PD II berkebangsaan Amerika juga ikut berperan pada masa – masa
awal Skadron II. Sebagai tambahan LU II Budiarto Iskak dan LU II
Sjamsudin Noor adalah termasuk lulusan pertama SPL I yang dilantik pada
tanggal 18 November 1950. Namun demikian kedua penerbang tadi telah
punya pengalaman mengawaki Dakota dalam misi penerbangan Garuda
Indonesian Airways di Burma.
Lantaran
jumlah penerbang masih sedikit, maka proses pemindahan Dakota dari PU
Cililitan ke PU Andir-pun dilakukan dengan carayang cukup unik. “Seiring
pesawat diterbangkan dari Jakarta tanpa Co-pilot (solo)”, jelas langkah
macam ini bukanlah hal lazim pada masa itu untuk menerbangkan pesawat
angkut berukuran sedang seorang diri . “Tapi apa boleh buat, kita waktu
itu memang kekurangan penerbang”.
Walau
kondisi jumlah personil terbatas, bukan berarti tugas-tugas operasional
tak bisa dilakukan. Masih berbekal dari pengalaman Sudarjono, misi
pertama yang harus di emban oleh Skandron angkut pertama TNI AU ini
adalah mencetak penerbang – penerbang Dakota Baru. Hasil dari misi ini
adalah lahirnya penerbang – penerbang baru ber-ranting Dakota, yaitu :
1. LU II Sri Bima
2. LU II Sudjalmo
3. LU II Abdul Mukti
4. LU II Pardjaman
Selain
misi mencetak penerbang – penerbang baru, tugas kedua adalah menggelar
misi penerbangan ke pangkalan – pangkalan udara di seluruh wilayah RI.
Misi ini diberi nama Survey- flight, fungsi dari survery – flight adalah
melihat sarana serta fasilitas di pangkalan – pangkalan udara dalam
mendukung tugas operasi pesawat AURI di masa mendatang. Selain itu,
dalam misi juga digelar uji pendaratan guna mengetahui kelayakan
pangkalan jika digunakan dalam operasi udara, kelanjutan dari misi ini
adalah untuk menggelar penerbangan pengangkutan personil dan materiil ke
pangkalan – pangkalan udara di wilayah negara RI.
Dikutip dari : http://202.158.39.213/content.asp?contentid=2935
0 Komentar