Logo Skadron 12 TNI Angkatan Udara ( AU )

Skadron Udara 12 diresmikan penggunaannya dengan home base di Lanud Kemayoran mulai tanggal 1 September 1963 dengan kekuatan 10 pesawat MiG-19.   Namun demikian pesawat tersebut tidak memiliki kemampuan yang diharapkan.   Sehingga tugas-tugasnya digantikan pesawat MiG-21.   Sedangkan pesawat Mig-19 sendiri dijual ke Pakistan.
Skadron udara 12 memilik andil yang besar dalam dalam operasi Dwikora dengan kekuatan MiG-21F.     Namun demikian pada akhir dekade 60-an, Skadron Udara 12 dilikuidasi karena tidak adanya dukungan suku cadang.   
Tahun 1980, adalah masa kebijakan “pintu terbuka” Amerika kepada ABRI.   Gelombang alat perang datang tiba-tiba.   TNI AU sendiri mendapatkan pesawat 16 pesawat A-4 Skyhawk yang dialokasikan untuk Skadron Udara 12.   Sebagai home base adalah pangkalan udara Iswahjudi. 
Lima tahun berada di Lanud Iswahjudi, Skadron Udara 12 harus pindah ke Pekanbaru sejak tanggal 28 Maret 1985.   Kepindahan ini berkaitan dengan pemerataan kekuatan udara untuk menjaga seluruh wilayah dirgantara nasional.   Sebelumnya wilayah Sumatera belum memiliki kekuatan pesawat tempur untuk menjaganya.   Dengan datangnya kekuatan pesawat A-4, diharapkan bisa mengatasi kerawanan wilayah udara Sumatera.   Pada tahun 1994, karena menurunnya kesiapan pesawat A-4 Skadron Udara 12, sisa pesawat yang ada disatukan ke Skadron Udara 11 Hasanudin, Makassar.             
Pada tanggal 14 Mei 1997, Menhankam Edi Sudradjat menyerahkan  “perwakilan” 24 pesawat Hawk 100/200 kita kepada Pangab Jendral Feisal Tanjung di Lanud Pekanbaru.   Salah satu peran Skadron Udara 12 yang menonjol adalah operasi pengamanan wilayah perbatasan Timor Timur saat jajak pendapat.


0 Komentar