Lambang Skadud 1
Anak Jonga Menjadi Maskot
LOGO SKADUD 1
Pada suatu hari sekitar pukul 05.15 di Pangkalan Udara Kendari
Letnan Noordraven, Letnan Ismail dan Letnan Jimy, bergegas menuju
pesawat Dakota yang akan mengangkut mereka dinas ke Jakarta. Tiba-tiba
Letnan Ismail melihat anak Jonga yang tanpa ragu-ragu mengikuti juru
mesin Letnan Jimy Lantang. Sewaktu akan ditangkap anak Jonga itu tidak
berusaha melarikan diri, spontan Letnan Jimy membuka kedua belah
tangannya dan anak jonga tersebut tanpa rasa takut dan gagah menuju ke
arah uluran tangan Letnan Jimy. Dan segera dipeluknya selanjutnya anak
jonga tersebut dibawa ke Jakarta. Peristiwa ini merupakan yang pertama
kali bahwa anak jonga terbang dengan pesawat angkutan udara RI.
Pada saat itu terlintas dalam pikiran Letnan Noordraven dan Letnan
Ismail bahwa Skadron Udara 1/ Pembom belum mempunyai maskot atau
lambang. Alangkah baiknya apabila anak jonga ini dijadikan maskot dan
sekaligus mengabadikan bentuk tubuh jonga sebagai lambang satuan pembom.
Akhirnya, setelah beberapa kali dilakukan seleksi dan konsultasi antar
para perwira yaitu Leppy Susatyo, Dichadinoto, Noordraven dan Ismail,
terpilihlah anak Jonga sebagai Lambang Skadron Udara 1 Pembom secara
resmi yang dilukis oleh Letnan Ismail.
Profil Skadud 1
Dasar : Keputusan Kepala Staf TNI Angkatan Udara Nomor
Kep/6/III/1999 tanggal 6 Maret 1999 tentang Pokok-pokok Organisasi dan
Prosedur.
a. Kedudukan. Sesuai Kep. Kasau di atas, Skadron Udara adalah
satuan pelaksana operasional Wing yang berkedudukan langsung di bawah
Dan Wing. Namun, karena di Lanud Supadio belum ada Wing, maka
kedudukan Skadud 1 berada lang-sung di bawah Dan Lanud.
b. Tugas. Tugas Pokok Skadron Udara 1 adalah Menyiapkan dan
melaksana-kan pembinaan dan pengoperasian unsur-unsur udara sesuai
fungsinya (pesawat dan awak pesawat) yang berada dalam satuannya.
c. Fungsi. Dalam rangka melaksanakan tugas tersebut, Skadud 1 menyelenggarakan fungsi-fungsi sebagai berikut :
1) Menyelenggarakan pembinaan dan penyiapan flight-flight
(Operasi, Latihan dan Pemeliharaan) untuk tugas-tugas latihan dan
operasi.
2) Menyelenggarakan kegiatan-kegiatan sesuai dengan proja Wing/Lanud.
3) Menyelenggarakan penjadwalan pesawat/jam terbang dan awak
pesawat serta peralatan lain untuk menjamin kelancaran pembinaan dan
penyiapan kegiatan operasi dan latihan.
4) Menyelenggarakan pengumpulan dan perekaman data untuk penyem-purnaan taktik dan teknik operasi latihan.
5) Menyelenggarakan pemeliharaan pesawat sampai dengan tingkat ringan.
d. Kemampuan. Dengan diterimanya Alutsista pesawat Hawk 200
Batch II dan beberapa perlengkapan pendukungnya, maka Skadron Udara 1
memiliki kemampuan untuk :
a. Melaksanakan serangan dari udara ke permukaan dengan
persenja-taan konvensional maupun dengan Rudal Maverick, didukung oleh
peralatan Nav/Attack System yang sangat akurat dengan bantuan Radio
Altimeter dan RADAR APG-66H.
b. Melaksanakan Visual Recce, Electronic Recce dan Armed Recce de-ngan menggunakan :
1) INS (Inertial Navigation System) yang menggunakan GPS (Global
Positioning System) sebagai sistim navigasi yang sangat akurat,
me-mungkinkan untuk terbang navigasi pada malam hari.
2) VTR (Video Tape Recorder) yang dapat merekam HUD (Head Up
Display) dan gambar permukaan bumi yang dilewati pesawat serta inter-com
dan komunikasi dengan luar maupun warning dari pesawat itu sen-diri
selama 120 menit air time.
3) Pesawat Hawk-200 siap menggunakan peralatan Camera Pod (namun
peralatan tersebut belum ada) siap juga dipasangi jamming pod chaff
& flares).
c. Melaksanakan Air Refueling, yang dapat menambah Radius of Action dan jarak jelajah.
d. Membawa persenjataan AIM-9-P-4 dengan Canon 30 mm sebagai persenjataan Udara ke Udara.
e. Mendeteksi sasaran bergerak di udara serta sasaran diam di
darat mau-pun di laut menggunakan perlengkapan RADAR type APG-66H dengan
jarak jangkau sampai 80 NM yang memiliki kemampuan anti Jamming.
Dengan peralatan tersebut ditambah dengan peralatan Avionic yang
mutahir, maka memungkinkan pesawat Hawk-200 ini dapat digunakan dalam
berbagai cuaca.
f. Mampu menangkap Frekuensi Gelombang Elektromagnetik (band E
s.d. J 2 s/d 18 GHz ) yang dipancarkan oleh Radar lain, baik Radar
Early Warn-ing, Airborne Radar maupun Radar Guided Missile dengan
peralatan RWR (Radar Warning Receiver). Peralatan RWR ini selain dapat
menangkap ge-lombang Elektromagnetik, juga dilengkapi dengan peralatan
yang dapat meng-olah dan memprogram data yang ditangkap tersebut menjadi
database yang dibutuhkan untuk pelaksanaan operasi. Peralatan ini
sudah siap untuk integ-rasi dengan Apollo Jamming Pod, Chaff dan Flares
melalui program “Merlin”.
g. System yang ada di pesawat sangat sederhana, sehingga dalam
kondisi mendesak/urgent dapat melaksanakan operasi mandiri tanpa
membutuhkan peralatan bantu untuk start engine dan ground handling-nya
sangat seder-hana dengan tingkat resiko yang kecil.
h. Melaksanakan Transisi/Konversi, Spesialisasi (Element Leader,
Flight Leader, Instruktur Pilot, Test Pilot, Instrument Rating Examiner)
dan Refresh-ing. Jumlah Instruktur yang ada sebanyak 4 orang.
Pesawat Latih dengan termpat duduk ganda yang ada sebanyak 3 Hawk-100
dan fasilitas yang tersedia di Skadud 1 untuk mendukung kegiatan
tersebut di atas yaitu :
1) CALS (Computer Aided Learning System) sebagai alat bantu untuk Ground School dengan kesiapan 6 unit dari 8 unit yang ada.
2) FBT (Fixed Base Trainer) yaitu peralatan serupa dengan
simu-lator dengan tampilan layar datar sebagai alat bantu untuk
melaksana-kan prosedur terbang. Kondisinya baik, hanya Control Column
tidak berfungsi dengan baik karena ada gangguan program, sehingga
res-ponnya lambat. Namun suply power yang utama kondisi US, sehingga
menggunakan secondary supply power dan akhirnya penggunaannya dihemat.
3) RAPTT (Reconfigurable Avionic Post Task Trainer), yaitu
peralat-an yang lebih sederhana dari FBT, digunakan untuk melatih
penerbang dalam mengoperasikan peralatan avionic di pesawat termasuk
Radar dan RWR.
0 Komentar